Ia lahir dari pagi yang bening di sebuah kampung kecil, tempat kabut turun pelan dan ayam jantan menyanyikan waktu. Di sana, tanah mengajarinya arti pijakan, sungai mengajarinya cara mengalir, dan angin membisikkan keberanian untuk melangkah. Ia tumbuh sebagai anak kampung—bukan sekadar sebutan, melainkan akar. Akar yang menancap pada kesederhanaan, pada peluh orang tua, pada doa yang dipanjatkan lirih di beranda senja.
Masa kecilnya adalah halaman-halaman sederhana: kaki telanjang di pematang sawah, tawa yang pecah di tepi sungai, dan matahari yang selalu pulang lebih dulu ke ufuk. Ia belajar membaca arah dari jejak burung, belajar sabar dari benih yang tak serta-merta tumbuh, dan belajar bersyukur dari nasi hangat yang dibagi rata. Dunia baginya bukan peta, melainkan rasa ingin tahu yang tak pernah kenyang.
Waktu berjalan, alamat hidupnya berubah. Jalan tanah berganti aspal, suara jangkrik kalah oleh bising kota. Namun di dadanya, kampung tetap bernapas. Ada rindu yang menetap pada aroma hujan pertama, pada bunyi bambu yang saling bersentuh ditiup angin. Ia membawa kampung itu ke mana pun melangkah—sebagai kompas yang diam-diam menuntun arah.
Hingga kini, petualangan masih menjadi cara ia menyapa hidup. Ia mengejar ufuk bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk memahami. Setiap perjalanan baginya adalah pertemuan: dengan wajah-wajah baru, dengan sunyi yang jujur, dengan dirinya sendiri yang sering luput ia dengar. Di jalan, ia belajar bahwa tersesat bukan aib—ia kerap adalah undangan untuk menemukan makna lain dari pulang.
Ia mencatat cerita pada debu sepatu, menambatkan rindu pada langit senja, dan menyimpan pelajaran di lipatan ransel. Di punggung gunung, ia mendengar hatinya lebih pelan namun lebih terang. Di tepi laut, ia mengerti bahwa luas tak selalu berarti jauh; kadang ia hanya berarti lapang di dada. Langkahnya sederhana, namun tekadnya teguh: berjalan dengan rendah hati, memungut hikmah dari yang kecil, dan menaruh hormat pada setiap tempat yang memberinya tumpangan cerita.
Anak kampung itu kini dewasa, namun jiwanya tetap kanak—ingin tahu, ingin belajar, ingin berjalan. Ia tahu, hidup bukan garis lurus yang menuntut tiba; ia adalah perjalanan panjang yang mengajarkan cara hadir. Dan selama kaki masih kuat menapak, selama mata masih bisa mengagumi, ia akan terus berpetualang—bukan untuk lari dari asal, melainkan untuk kembali, berkali-kali, dengan hati yang lebih lapang dan cerita yang lebih jujur.
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM Jakarta